Sunday, February 08, 2015 -
No comments
No comments
Arsene Wenger : Le Professeur
pelatihnya. Arsene Wenger namanya. Tak banyak yang mengenalnya di Inggris.
Harian The Evening Standard, bahkan
menyambutnya dengan sinis. Ini tajuk berita utama koran tersebut hari itu:
‘Arsene Who?’
Wenger memang bukan siapa-siapa. Dia hanya mantan pelatih Nagoya Grampuss Eight, klub profesional yang baru muncul di Jepang. Jauh kalah reputasi dibanding
Johan Cruyff, lelaki Belanda yang semula dijagokan menukangi Arsenal.
menyambutnya dengan sinis. Ini tajuk berita utama koran tersebut hari itu:
‘Arsene Who?’
Wenger memang bukan siapa-siapa. Dia hanya mantan pelatih Nagoya Grampuss Eight, klub profesional yang baru muncul di Jepang. Jauh kalah reputasi dibanding
Johan Cruyff, lelaki Belanda yang semula dijagokan menukangi Arsenal.
Tidak tepat juga menyebut Wenger tak punya reputasi. Dia pernah mengantar Monaco jadi juara Ligue 1.
Tidak tepat pula menyebutnya tak kenal sepak bola Inggris. Dia pernah menangani Glenn Hoddle dan Mark Hateley, dua penyerang Inggris yang pernah membela Monaco.
Tak terasa, kini sudah hampir 17 tahun dia di Stadion Emirates
(ketika pertama kali dia datang, nama stadionnya masih Highbury), London. Le Professeur, begitu publik dan media Inggris menjulukinya,
jadi pelatih paling lama menangani sebuah klub, setelah Alex Ferguson.
jadi pelatih paling lama menangani sebuah klub, setelah Alex Ferguson.
Raihan prestasi Wenger selama 17 tahun, dari sisi trofi, tidaklah terlalu mengagumkan. Hanya 11 gelar juara.
Di antara itu, cuma tiga gelar juara Liga Primer.
Jangan bandingkan dengan Ferguson yang bahkan sudah menyabet 13 gelar juara Liga Primer. Atau,
Pep Guardiola yang mempersembahkan 14 trofi juara bagi Barcelona hanya dalam waktu empat tahun.
Tetapi, sepak bola bukan hanya urusan menang-kalah. Bukan hanya soal juara.
“Tentu saja, kami ingin memenangkan liga. Tapi, saya kira, hal paling sulit bagi klub adalah bagaimana agar konsisten dan kami luar biasa konsisten. Kami kalah di liga dari tim yang menghabiskan 50%
lebih banyak uang setiap tahun. Tahun lalu mereka membeli seorang pemain
senilai 30 juta pound saat gagal jadi juara.
lebih banyak uang setiap tahun. Tahun lalu mereka membeli seorang pemain
senilai 30 juta pound saat gagal jadi juara.
Mereka akan melakukan hal yang sama tahun depan dan kami sudah menciptakan keajaiban hanya dengan bersaing lawan mereka,” katanya.
Dia menyindir Manchester United kala itu. jika sepak bola hanya urusan menang-kalah, urusan juara, urusan taburan pemain bintang, Arsenal bukan apa-apa.
Real Madrid, Manchester City, Chelsea, atau Inter Milan, lebih jago urusan itu.
Mereka tinggal menuliskan nilai beli pemain dalam selembar cek dan mendapatkan bintang.
Wenger tidak seperti itu. Dia bukan membeli bintang, tapi menciptakannya.
Mereka tinggal menuliskan nilai beli pemain dalam selembar cek dan mendapatkan bintang.
Wenger tidak seperti itu. Dia bukan membeli bintang, tapi menciptakannya.
Sedikitnya ada dua alasan untuk itu.
Pertama, menciptakan bintang, secara psikologis akan menyenangkan dan
membesarkan klub.
membesarkan klub.
Kedua, anggaran operasional klub bisa dipangkas.
Maka, ketika ada pertanyaan siapa yang
membesarkan George Weah sampai akhirnya pernah terpilih sebagai pemain
terbaik dunia, jawabannya Wenger.
membesarkan George Weah sampai akhirnya pernah terpilih sebagai pemain
terbaik dunia, jawabannya Wenger.
Siapa yang menjadikan Viktor Ikpeba sehingga terpilih sebagai Pemain Terbaik Afrika, jawabannya juga Wenger.
Saat Weah menerima trofi Pemain Terbaik Dunia 1995 dari Presiden FIFA (saat itu) Joao Havelange, dia mengundang Wenger naik ke atas panggung.
Secara spontan, dia memberikan medalinya kepada lelaki Grancis itu sebagai bentuk apresiasinya.
“Arsene adalah keajaiban. Dia merevolusi klub. Dia menjadikan pemain kelas dunia. Sejak dia di sini, kami menyaksikan sepak bola dari planet lain,” kata David Dein,
yang pernah jadi petinggi Arsenal.
Satu lagi, mengelola klub sehingga membawa profit.
Sebuah survei yang dilakukan enam tahun lalu membuktikan Wenger satu-satunya pelatih yang mendapat keuntungan dari bursa transfer. Sepanjang 2004-2009, rata-rata keuntungan Arsenal dari jual-beli pemain
adalah 4,4 juta pound setahun.
adalah 4,4 juta pound setahun.
Salah satu yang fenomenal saat dia membeli Nicolas Anelka dari Paris St Germain senilai 500 ribu pound pada 1997 dan menjualnya ke Real Madrid dua tahun kemudian senilai 23,5 juta pound.
Untung 23 juta pound hanya dalam dua tahun.
Wenger pula yang menjadikan pemain-pemain seperti Thierry Henry, Patrick Vieira, Cesc Fabregas, Alex Song, Kolo Toure, menjadi nama-nama yang sangat diperhitungkan di Eropa. Dia yang
mengubah kebiasaan buruk Robin van Persie sehingga jadi bintang benderang, yang berdiri di samping Tony Adams ketika pemain terbaik Arsenal sepanjang masa itu tersangkut ketergantungan alkohol.
mengubah kebiasaan buruk Robin van Persie sehingga jadi bintang benderang, yang berdiri di samping Tony Adams ketika pemain terbaik Arsenal sepanjang masa itu tersangkut ketergantungan alkohol.
Jadi, jelaslah, sepak bola bukan hanya soal kalah menang.
Di sana ada harkat, yang tak hanya dihitung dari kalah- menang, dari jumlah gelar juara.
Di sana ada pride. Ada kebanggaan. Ada kepuasan.
One Arsene Wenger,
There’s Only One Arsene Wenger,
One Arsene Wenger..
There’s Only One Arsene Wenger..
There’s Only One Arsene Wenger,
One Arsene Wenger..
There’s Only One Arsene Wenger..

0 komentar:
Post a Comment