Sunday, February 08, 2015 -
No comments
No comments
Cara Mendeteksi Blackbox Pesawat terbang
CARA KERJA BLACK BOX / KOTAK HITAM
“Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam melainkan berwarna jingga/oranye. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan.” – wikipedia
Nah, bagi yang selama ini menganggap bahwa kotak hitam adalah berwarna hitam, ternyata salah. Tapi mengapa disebut kotak hitam?
Mungkin, karena dulunya pertama kali hitam, atau memang dari pertama ada, memang sudah orange. Bisa jadi karena orange, tapi karena mengalami kecelakaan pesawat, warnanya berubah menjadi hitam.
Sebenarnya, konotasi kotak hitam disini adalah bahwa tragedi atau misteri itu dikonotasikan dengan warna hitam. Kotak hitam (black box) pada pesawat terbang berfungsi untuk mencatat kegiatan pilot baik percakapan – cockpit voice recorder (CVR), maupun gerak pesawat terbang -flight data recorder (FDR) .
Data dari FDR dan CVR disimpan di memory boards di dalam crash-survivable memory unit (CSMU) – pelindung black-box1memory yang berbentuk silindris. Dengan alat ini lebih dari 700 macam parameter data dapat disimpan. Crash Survivable Memory Unit (CSMU) berisi papan memori dikelilingi oleh isolasi termal baju besi dan baja yang dapat menahan dampak kecelakaan ribuan kali gaya gravitasi dan bertahan di laut pada kedalaman 14.000 – 20.000 kaki (4,270 m-6.096 m).
Seluruh data yang dikumpulkan oleh sensor sensor di pesawat terbang di kirim ke flight-data acquisition unit (FDAU) yang terletak di hidung pesawat. FDAU inilah sebagai perantara sebelum data di simpan dalam kotak hitam.
Itulah sebabnya mengapa setiap ada kecelakaan pesawat terbang, kotak hitam inilah yang di cari oleh investigator, karena data-data terakhir sebelum terjadi kecelakaan terekam dalam kotak hitam ini. Biasanya data-data di dalam kotak hitam (black box) ini dirahasiakan oleh penyelidik karena berbagai alasan.
CARA MENDETEKSI KEBERADAAN BLACK BOX
Pencarian blackbox ini dilakukan dengan beberapa cara, yakni menggunakan beberapa peralatan canggih yang bisa mendeteksi benda hingga ribuan meter di bawah permukaan laut. Peralatan yang digunakan dalam proses pencarian adalahBluefin-21 dan Towed Pinger Locator (TPL). Kedua alat tersebut tampak berbeda, tapi mempunyai fungsi yang sama.
Dalam kondisi normal, bluefin-21 dapat mencari hingga kedalaman 4500 meter dan dapat bertahan selama 25 jam, setelah itu diangkat lagi ke permukaan laut dan dianalisis data-data yang telah diperolehnya. Alat canggih selanjutnya adalahTowed Pinger Locator (TPL), ukuranya lebih kecil dan lebih ringan dari BLuefin-21. Bentuknya seperti ikan pari dengan cat berwarna kuning membuatnya bisa menyelam ke dalam laut hingga 20.000 meter. TPL dilengkapi denga Hyrophoneyang sensitif dengan gelombang sinyal dan langsung terkoneksi sebagai titik koordinat terhadap sinyal yang ditemukanya.
Dalam kondisi normal, bluefin-21 dapat mencari hingga kedalaman 4500 meter dan dapat bertahan selama 25 jam, setelah itu diangkat lagi ke permukaan laut dan dianalisis data-data yang telah diperolehnya. Alat canggih selanjutnya adalahTowed Pinger Locator (TPL), ukuranya lebih kecil dan lebih ringan dari BLuefin-21. Bentuknya seperti ikan pari dengan cat berwarna kuning membuatnya bisa menyelam ke dalam laut hingga 20.000 meter. TPL dilengkapi denga Hyrophoneyang sensitif dengan gelombang sinyal dan langsung terkoneksi sebagai titik koordinat terhadap sinyal yang ditemukanya.


0 komentar:
Post a Comment